Dunia Belum Berakhir

by titaniumtitanium

Peluhku bercucuran. Deras. Seminggu belakangan mentari begitu terik, panas sekali. Langit juga tampak kebiruan, hanya dihiasi beberapa gumpalan awan. Tak terkeculi pagi ini, mentari lagi dan lagi kembali mencumbu, menambah jejak-jejak kemerahan di beberapa bagian kulitku. Gatal, terutama di sekitar leher.

Seminggu belakangan pula, aku bulak-balik menempuh perjalanan puluhan kilometer dari kediamanku di suatu dusun terpencil di pinggiran menuju kota terbesar ketiga di Indonesia, Medan. Ya, berjuang melawan sengatan mentari dan debu jalanan, berpindah dari satu angkutan ke angkutan yang lain, mengantar amplop-amplop kuning kecokelatan, dan mengikuti sesi wawancara dari satu perusahaan ke perusahaan lainnya. Harus kuterima, rata-rata berujung dengan kekecewaan.

Sekarang, aku seorang pengacara alias pengangguran yang banyak acara. Aku memutuskan untuk resign dari perusahaan sebelumnya dikarenakan beberapa alasan. Aku ingin merasakan suasana kerja yang baru, tidak munafik juga salary yang lebih menjanjikan. Awalnya aku tidak begitu mempermasalahkan gaji, orientasiku lebih ke menambah pengalaman bekerja. Tapi, semakin ke sini, di tengah himpitan perekonomian keluarga yang kian sulit, wajar saja pikirku. Bayangkan saja, hampir empat tahun bekerja di perusahaan yang kabarnya bonafit ini, aku hanya digaji sebesar dua juta rupiah per bulan. Kotor. Sedangkan kebutuhan hidup semakin meningkat dari hari ke hari, belum lagi biaya-biaya lain yang harus kutanggung sendiri (bersama orang tua) seperti: cicilan biaya kuliah, biaya angsuran motor, dan sebagainya. Berat sekali. Pandai-pandai mengatur keuangan saja tak cukup.

Di mana hati kalian bapak dan ibu pimpinan? Hanya janji-janji dan harapan palsu yang selalu kalian berikan. Pada akhirnya juga kalian-kalian yang di ataslah yang mendapat limpahan pundi-pundi berlebih.

Kapan giliran kami? Kapan giliranku? Kapan?

Kalian hanya tahu menuntut kami untuk terus meningkatkan kinerja, tapi kesejahteraan kami saja tidak kalian perhatikan!

Persoalan ini juga melanda rekan-rekan kerjaku di golongan yang sama. Namun, tidak seperti pilihanku. Mereka lebih memilih bertahan. Alasan mereka klasik: susah mencari pekerjaan yang pas dan menguntungkan bagi kedua belah pihak dalam kondisi seperti sekarang di kota ini.

Ya, ini yang sedang kualami, belum juga mendapat pekerjaan sampai sekarang. Ada sebuncah penyesalan…

Aku bukan bermodal nekat atau pun sok hebat keluar tanpa ‘pegangan’ terlebih dahulu. Sebelumnya, sudah kulayangkan surat lamaran ke beberapa perusahaan yang dari jauh-jauh hari kuincar. Namun, apa daya, tak ada satu pun panggilan interview yang menghampiri. Salahkan nasib? Selain itu, adakah alasan-alasan lain yang membuatku ingin mengundurkan diri? Jawabannya ada. Aku kurang suka dengan sifat, perilaku, dan etos kerja atasan dalam divisiku, serta ‘drama-drama’ a la telenovela yang terjadi di lingkungan kantor.

***

Jamku sudah menunjukan pukul 11.50 siang. Baru saja aku keluar dari ruangan interview di sebuah bank yang berlokasi di Jalan Zainal Arifin. Empat puluh lima menit di dalam ruangan itu terasa begitu lama. Dan bisa kautebak, aku keluar menelan kekecewaan (lagi). Sepertinya tak akan ada wawancara lanjutan. Ah, aku sangat kelaparan sekarang. Cacing-cacing di perutku sudah berdemo supaya diberi asupan makanan. Aku hanya makan sehelai roti tawar yang diolesi margarine dan ditaburi sedikit gula untuk sarapan pagi tadi dikarenakan buru-buru sudah harus sampai ke lokasi sebelum pukul 10.00. Lagian, tanggung juga kupikir jika harus pulang, mengingat perjalanan pulang menuju rumahku memakan waktu yang cukup lama, dan aku tak mau sakit maag ini semakin memburuk. Jadi, kuputuskan untuk singgah ke mall yang tak jauh dari sini untuk makan siang dan berjalan-jalan sebentar. Refreshing. Kegiatan yang semakin jarang kulakukan.

Dalam perjalanan, pikiran mengajakku berkontemplasi, menyusuri, dan membongkar kembali ‘file-file’ yang tersimpan rapi dalam laci-laci ingatan di dalam batok kepala. Tentang wawancara-wawancara yang tak kunjung menunjukkan titik terang; tentang masa-masa bahagia dan kelam yang telah kulewati; tentang nasib dan masa depanku kelak; tentang orang-orang yang lalu lalang dalam hidupku; tentang orang-orang yang kucintai: adek, kakak, bapak, ibu…  Dua orang yang kusebutkan terakhir membuat mataku mendadak berkaca-kaca. Aku… aku belum menunjukkan baktiku yang sebenarnya kepada mereka. Aku belum mendapat pekerjaan yang bisa membahagiakan mereka, membanggakan mereka…

Aku frustasi…

Kenapa mereka menolakku?

Kesampingkan dulu fisikku yang standar ini. Di umur yang masih tergolong muda, aku sudah mempunyai ‘bekal’ pengalaman bekerja di sebuah perusahaan swasta yang cukup terkenal. Dan sekarang aku telah mengantongi ijazah Strata 1 dari salah satu perguruan tinggi yang cukup bergengsi di kotaku. Jadi aku bukanlah fresh graduate biasa. Skill dan kinerjaku tak perlu diragukan lagi. Aku cukup percaya diri dengan ‘modalku’ ini. Namun, sepertinya apa yang kumiliki belum cukup bagi mereka. Belum lagi dijejeli pertanyaan-pertanyaan luar biasa saat sesi interview seperti berikut:

“Dengan  usaha orang tuamu sekarang, apa bisa menghidupi kalian?”

Pertanyaan bodoh yang mungkin tak perlu kujawab. Terus terang aku cukup emosi, tapi supaya terlihat sopan aku memasang senyum yang dipaksa. Beliau pasti mengerti maksud dari senyumku ini.

Terus…

“Kamu punya kembaran cewek? Pernah cemburu gak kalau kalau dia punya pacar?”

Pertanyaan ajaib lainnya. Ngapain juga aku cemburu kalau kakakku punya pacar? Saya bukan incest kok, Pak!, ingin kujawab seperti itu, tapi yang kulakukan hanya kembali mengulas senyum palsu dan menjawab dengan satu patah kata saja,”enggak.”

Hinaan-hinaan lain yang menjurus ke fisik juga cukup membuatku sakit hati. Beliau mengatakan bajuku kurang rapi, tidak diseterika, dan penampilanku seperti preman. Padahal, aku sudah berusaha tampil rapi dan maksimal. Sekali lagi, aku cuma diam dan mengulas senyum palsu. Ah… kujelaskan panjang lebar ke bapak ini pun akan sia-sia. Beliau mana mau mentolerir keadaanku. Kalau pun kuniatkan untuk bercerita, beliau mungkin tak sudi mendengar perjuanganku untuk sampai ke sini.

***

Pertanyaan lainnya kini bergumul kembali dalam pikiranku. Semakin menyesak.

Sebegitu tinggikah kualifikasi perusahaan-perusahaan sekarang terhadap karyawan- karyawan barunya?

Sebegitu ketatkah kompetisi dalam dunia kerja saat ini?

Mungkinkah hal-hal tersebut yang mengakibatkan banyaknya pengangguran sepertiku?

Entahlah…

Yang pasti, jutaan manusia di Indonesia kini menganggur dan sebagian besar dari mereka adalah penyandang gelar mahasiswa, termasuk aku. Menyedihkan sekali.

Lantas di manakah visi dan tujuan perusahaan-perusahaan dalam membantu program pemerintah mengurangi jumlah pengangguran di Indonesia? Buktinya yang lebih ‘berilmu’ saja masih banyak yang menganggur…

***

Peluhku kembali bercucuran. Semakin deras. Mentari sedari tadi menggigit kulitku yang sedang menunggu angkutan umum bernomor 138, memaksaku menggaruk kulit di sekitar leherku yang kemerahan. Perih sekali. Kulirik sejenak jam di tanganku, waktu sudah menunjukkan pukul 14.30. Saat-saat seperti, seingatku, aku sedang giat-giatnya bekerja, diterpa semilir AC kantor yang enggak dingin-dingin amat, tapi lumayan menyejukkan, lalu memesan cemilan sore berupa: gorengan tahu isi, tempe, risoles, martabak telur atau cokelat, atau cemilan lainnya pada office boy, kemudian menyeruput teh dingin sambil bekerja dengan santai di dalam ruanganku sembari menunggu pesananku tiba di meja kerja. Kesederhanaan yang sangat kurindukan, namun tak akan terulang.

Lima belas menit berlalu, akhirnya angkutan yang kutunggu tiba juga. Tidak sepadat yang kubayangkan. Kemudian kunaiki dan kutemukan tempat duduk kosong di pojokan belakang, dekat jendela. Spot favoritku. Kukeluarkan smartphone yang akhir-akhir ini jarang kuhiraukan dari tas selempangku, kuaktifkan untuk melihat apakah ada pesan singkat, broadcast message, atau panggilan masuk untukku. Dan hasilnya nihil. Tak ada yang mencariku rupanya, kasihannya diriku…, batinku disertai senyum yang mengembang di bibirku. Senyum getir…

Kusumbatkan earphone di kedua lubang telingaku. Ku-shuffle lagu dalam ponselku, sejurus kemudian nama Miley Cyrus dan lagunya yang berjudul “The Climb” tertera di atas layar. Entah suatu kebetulan atau tidak, yang jelas lagu ini sangat berarti bagiku. Lagu yang sangat menyemangati. Ya, cocok sekali dengan keadaanku saat ini. Terpuruk.

Rasanya ingin kuhaturkan beribu-ribu terima kasih kepada orang-orang yang telah berjasa menghadirkan lagu ini ke dunia. Mendadak semangatku seolah di-charge kembali. Aku mencoba berdamai dengan keadaan. Kupasrahkan nasibku pada-Nya.

Ledakan emosi mengharuskanku menyeka ‘hangat’ di sudut-sudut mata. Aku tak malu dilihat penumpang yang lain, aku tak lagi peduli. Kembali kubetulkan sandaranku, kini agak menyamping, bersisian dengan kaca. Pandanganku menyapu jalanan, jalan pulang yang akan kulalui lagi keesokan harinya, juga mobil dan motor yang lalu lalang. Demikian juga dengan sakit hati, amarah, kekecewaan, penyesalan yang tadinya berkecamuk kini menguap bersama rumpi-rumpi penumpang, teriakan sopir-sopir angkot, bebunyian klakson mobil dan motor, asap-asap hitam dari knalpot, menempel dan bersanding dengan emisi karbon lainnya pada ozon di lapisan troposfer. Hanya menyisakan aku dan mimpi-mimpi besarku, terbius dalam buaian lagu.

But I… I gotta keep trying
Gotta keep my head held high

There’s always gonna be another mountain
I’m always gonna wanna make it move
Always gonna be a uphill battle
Sometimes I’m gonna have to lose

Ain’t about how fast I get there
Ain’t about what’s waiting on the other side
It’s the climb…

 

Aku tak boleh patah semangat. Aku harus bangkit!, batinku sekali lagi. Mungkin hari ini aku hanya tidak beruntung, tapi esok pasti lebih baik. Kuucapkan berulang-ulang dalam hatiku.

                Dunia belum berakhir.

 

Saya dedikasikan tulisan ini kepada jutaan pengangguran di Indonesia, khususnya penyandang gelar mahasiwa. Kalian berhak mendapat pekerjaan yang layak. Tetap semangat dan pantang menyerah!

Medan, 30 April 2013, 20.30 WIB